Mahasiswa BKI UIN Sunan Kalijaga Pelajari Metode Rehabilitasi Inabah di Pondok Pesantren Suryalaya
Mahasiswa BKI UIN Sunan Kalijaga Pelajari Metode Rehabilitasi Inabah di Pondok Pesantren Suryalaya
Tasikmalaya, 13 Juni 2026 – Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melaksanakan kegiatan kunjungan lapangan ke Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Jumat–Sabtu, 12–13 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 90 mahasiswa BKI angkatan 2025 dan didampingi oleh dua dosen pengampu Mata Kuliah Tafsir dan Hadis BKI, yaitu Dr. H. Irsyadunnas, M.Ag. dan H. Nailul Falah, S.Ag., M.Si.
Kunjungan lapangan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai implementasi nilai-nilai keislaman dalam praktik rehabilitasi sosial dan pembinaan mental-spiritual. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai integrasi ajaran Islam, khususnya tasawuf, dalam proses pemulihan individu yang mengalami ketergantungan narkoba maupun berbagai bentuk penyimpangan perilaku remaja.
Dalam kesempatan tersebut, rombongan mahasiswa memperoleh materi mengenai Metode Rehabilitasi Inabah Pondok Pesantren Suryalaya yang disampaikan oleh Ero Koswara, M.Pd, Wakil Kepala Sekretariat Pondok Pesantren Suryalaya. Narasumber menjelaskan bahwa Inabah merupakan metode rehabilitasi religius yang dikembangkan di bawah naungan Pondok Pesantren Suryalaya dan telah dikenal luas sebagai salah satu model rehabilitasi berbasis spiritual di Indonesia.
Program Inabah berfokus pada pembinaan individu yang mengalami ketergantungan narkoba, penyalahgunaan zat, serta berbagai bentuk kenakalan remaja. Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada proses penyucian jiwa dan pembentukan karakter melalui berbagai aktivitas ibadah yang terstruktur. Terapi utama yang dijalankan meliputi mandi tobat, pelaksanaan salat berjamaah secara intensif hingga mencapai 120 rakaat per hari, serta pengamalan zikir jahar dan zikir khafi yang berlandaskan ajaran Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.
Menurut Ero Koswara, proses rehabilitasi dalam program Inabah umumnya berlangsung selama empat bulan dan dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu tahap pengosongan diri dari berbagai perilaku negatif, tahap pengisian dengan nilai-nilai spiritual dan keagamaan, serta tahap pemantapan kualitas diri agar santri mampu kembali menjalani kehidupan sosial secara sehat dan produktif.
Dalam pemaparannya juga dijelaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh metode yang diterapkan, tetapi juga oleh kesungguhan niat individu yang menjalani proses pembinaan. Selain itu, dukungan keluarga dan lingkungan sosial setelah masa rehabilitasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan perubahan perilaku yang telah dicapai.
Mahasiswa juga memperoleh gambaran langsung mengenai pengalaman para santri binaan yang telah menyelesaikan program Inabah. Berdasarkan berbagai testimoni yang disampaikan, praktik zikir dan disiplin ibadah yang dijalani secara konsisten mampu menghadirkan ketenangan spiritual, meningkatkan kesadaran diri, serta mengubah karakter yang sebelumnya keras dan agresif menjadi lebih tenang, lembut, dan bertanggung jawab.
Kegiatan ini memberikan pengalaman akademik yang berharga bagi mahasiswa BKI dalam memahami praktik rehabilitasi berbasis nilai-nilai Islam secara langsung. Selain memperkaya pemahaman teoritis yang diperoleh di ruang kuliah, kunjungan ini juga memperlihatkan bagaimana pendekatan spiritual dapat berkontribusi dalam proses konseling, terapi, dan rehabilitasi sosial.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga berharap mahasiswa mampu mengembangkan perspektif yang lebih komprehensif mengenai layanan konseling Islam, khususnya dalam konteks rehabilitasi psikososial berbasis spiritual yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer.